
Bacalah
Bacalah mataku
Yang terbuka di
hadapmu
Wajahku yang
memerah
Semerah senja
yang mengantarmu
Pada teduh
pelangi
Sepi tak lagi
punyamu
Sebab ramai
membungkusmu
Dalam peluk mata
batinku
Bacalah,
Simfoni yang
terlukis indah
Sumenep,
29 Januari 2014
Akupun
Bertanya
Bunga mimpiku
berguguran pada wajahmu
Selalu saja ada
yang gagal ketika aku ingin menjadi
Produser di
mimpiku
Serpihan mimpi
yang melenggok pada jalan lain
Namun tetap
buntu di wajahmu
Rindu tak musti
diucapkan
Barangkali masih
ada yang perlu menemaniku
Dalam mata
memejam
Menghembus serupa
suaramu
Kirimkan aku
anakmu agar bisa kurawat bersama gelakku
Di kamar ini,
aku kehilangan dengkurmu
Semacam gelombang
cinta yang tiba-tiba
Tak menemukan
frekuensi
Semacam bentuk
bibirmu yang menggoda
Adakah mimpiku
dalam mimpimu?
Dan akupun
bertanya
“banyakkah wajah
seperti wajahku?”
Sumenep,
4 Februari 2014
Hanya
Rindu
Suara yang
menghantam gendang telingaku
Menangkap rindu
pada pucuk reranting
Di pagi yang
dingin
Bukan karena
hujan
Tapi karena
rindu yang teramat
Ada wajah yang
kabur
Seperti pasir
yang menyelimutimu
Di antara deru
kaki
Kau bersijingkat
membuat jejak baru
Juga batu yang
kau ukir namaku
Tak hanya itu!
Selongsong rindu
yang aku pantik
Kini sampai di
jantungmu
Hanya di
jantungmu
Ya, hanya
selongsong yang menghujam
Mata hatimu!
Sumenep,
3 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar