![]() |
Perancang sampul: Raedu Basha. |
PERMAISURI MALAMKU
Kerlip
mata malammu
jumpalitan
jatuh ke cahaya mukaku
Kita
memang tidak saling bersama
sebab
ruang tempat aku duduk
di
balik meja melihat cakrawal
begitu
jauh pada batas dimensimu
Di
sini, telentang sendiri
menatapmu,
pendal-pendal kristal bertabur
yang
indah karena berserakan
kelipnya,
jumpalitan bintang-bintang di sana
aku
menakar batas akhir kemampuanku
menjangkau
sumber cahaya
Malam
membangunkanku
pada
kehendak membuat perhitungan
antara
gelap dan kebekuan
atau
siang dan kecemasan
lalu
kutulis sebuah matahari terbenam
meski
tak sungguh-sungguh terbenam
Maka,
kerdip matamu
ribuan
bintang, jumpalitan dalam sekejab
dan
aku segera menghitung nasib
memang
benar, kita tidak bisa bersama
bagiku
ruang, bagimu waktu
kujulurkan
jemari
menangkap
dengan tangkup
berdebar
dalam takut
hujan
bintang-bintang
ke
halaman luas mimpiku
menghamburkanmu
ke serambi tidurmu
aku
menghitung-hitung saat
berbagi
dua dengan waktu
menjadi
satu dengan malammu
dalam
ingatan yang tak lengkap
saat
cahaya bermakna bagi gelap
dan
kubiarkan sepi melukaiku:
butuh
perih untuk menghargai nikmat
Permaisuri
malamku
selalu
datang dengan tanpa kehadiran
dalam
rentang yang tak terjangkau pandang
karena
jarak yang menghubungkan aku denganmu
semata
patahan-patahan garis
yang
tak henti-hentinya digabungkan
dalam
sebuah pengandaian.
27/06/2006
SURAT CINTA UNTUK MALAM
Kilatan
cahaya yang berpendar
redup
dan berdenyar
seperti
jantungku, mengatup dan mekar
perkenalkan,
aku bernama malam
“Saya
berdiri di bawah kubah langit
beradu
pandang dengan polaris
zenit,
inikah langit yang puitis?
langit
ibarat yang tak tersingkap
sebagai
ejaan di ujung abjad
“Baiklah,
saya akan bergerak menjauh
untuk
membuat kesimpulan lama perjalanan
tahun
cahaya semesta dalam bola mata:
kesimpulan
dalam pengandaian
sebab,
tugas teori hanya untuk
meremajakan
akal-pikiran
agar
selalu salah
dalam
mengambil keputusan benar
“Saya
merancang sebuah kepastian
langkah
tertatih: ujicoba dan praduga
sains,
saya berjalan ke arahmu
yang
benar dalam kesementaraan
dan
salah dalam ketegangan”
Bintang-bintang
di langit
alangkah
indah cahaya
dari
nadir menuju zenit
hanya
sejengkal
kecil
bukan pada wujud
tapi
pada mata orang yang memandang
Engkau
mendekat dalam teropong
tapi
menjauh dalam pengertian
kita
bergerak; mendekat-menjauh
berpikir
dalam pengandaian
berkembang
dalam ketakterjangkauan
entah
di galaksi mana
kebenaran
kita akan saling berpapasan
Mari
kita terus beradu pandang
hingga
kelak engkau dan aku sama-sama tahu
aku
diciptakan untuk memahamimu
atau
engkau diciptakan untuk menopang wujudku?
Bintang-bintang
di langit malam
janganlah
berkedip!
dan
engkau tak berkesip
kalian,
bermilyar-milyar mata memandang ke mari
tersenyum
takjub memandang kami:
mengapa
titik kecil yang berpikir itu
tak
mampu mencari alasan
untuk
apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan
Pendar
gugus bintang semesta raya
jika
engkaulah alamat kebenaran
maka
perkenankan,
sepanjang
hidupku menjadi malam
14/08/2007
NAMAKU MALAM
Namaku
malam
kepingan
waktu yang membentuk subuh
engkau
fajar, merah ditempa matahari
Siang,
apa yang mereka cari?
tak
ada selain cahaya
hingga
yang hilang didapatkannya
hingga
rahasia menjadi terbuka.
Kita
duduk beradu punggung
menghadap
barat- timur
lalu,
kita sama-sama berucap
“ingin rasanya kita bisa saling menghadap”.
Lalu,
di manakah kelabu dan temaram?
tidak,
namaku hanya malam
engkau
tak bisa memanggilku di luar itu
yang
satu tidak dapat menatap lainnya
sebagaimana
tahu dan tidak tahu
tak
menemukan bangku untuk duduk bersama.
21/09/2007

Tidak ada komentar:
Posting Komentar